KAWULA INDONESIA-Penguatan literasi keuangan merupakan hal yang penting dalam rangka membantu usaha ultra mikro agar dapat mengakses kepada pembiayaan keuangan formal.

“Rendahnya akses UMi (ultra mikro) terhadap keuangan formal disebabkan oleh masih rendahnya literasi keuangan pelaku UMi,” ujar Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Aria Bima dalam rilis di Jakarta, kemarin.

Menurut Aria Bima diharapkan agar BUMN Holding Ultra Mikro (terdiri dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), PT Pegadaian dan PT Permodalan Nasional Madani) harus siap membantu pelaku usaha ultra mikro, terlebih pada masa pandemi COVID-19, kondisi pasar memang masih cukup menantang.

Holding UMi tersebut, lanjutnya, diharapkan dapat mampu memperluas jangkauan, memajukan inklusi keuangan, menjadi medium pembiayaan berkelanjutan serta membantu pelaku usaha yang belum memiliki akses ke sumber pendanaan formal dengan sokongan jejaring BRI, Pegadaian dan PNM.

Ia juga menekankan pentingnya agar BUMN Holding Ultra Mikro (UMi) perlu melakukan pembinaan terhadap jejaring UMKM yang dimilikinya dalam rangka meningkatkan kualitas produk lokal untuk ekspor ke dunia internasional, khususnya pemasaran melalui dunia teknologi.

“Jejaring UMKM di BUMN Holding Ultra Mikro ini nanti tidak hanya bisa masuk di aspek penguatan permodalan. Juga agar bagaimana pembinaan itu bisa juga langsung menangani kualitas produk yang tidak hanya kepentingan pasar domestik tapi juga untuk kepentingan pasar ekspor yang dengan teknologi,” beber Aria Bima.

Politisi Fraksi PDIP itu mengingatkan bahwa berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, jumlah usaha mikro mencapai 98,7 persen dari UMKM di Indonesia dan berkontribusi terhadap 109,84 juta tenaga kerja atau 89,04 persen dari total tenaga kerja dan menyumbang 37,35 persen dari PDB tahun 2019. (dri)