Batik Peranakan unjuk aksi dalam Gelaran Wastra

Kedepannya gelaran wastra akan rutin diadakan

Batik Peranakan unjuk aksi dalam Gelaran Wastra

KAWULA INDONESIA – Dalam rangka memeriahkan Imlek yang digelar 4-6 Febuari 2022, Gelaran Wastra kali ini berkolaborasi dengan Yayasan Belantara Budaya Indonesia dan The Sultan Hotel & Residen, hadir dengan mengangkat tema Batik Peranakan.

Sejumlah acara menjadi daya tarik gelaran Wastra kali ini, seperti pameran batik koleksi Dave Tjoa, pesta budaya, talk show, fashion show dan pameran UMKM.

Founder Yayasan Belantara Budaya Indonesia, Diah kusumawardani Wijayanti bersama Pemerhati Batik dan kurator pameran Dave Tjoa  dan VIP The Sultan Hotel & Residence, I Nyoman Sarya berharap, agar kedepannya gelaran wastra akan rutin diadakan.  Beragam tema siap diangkat selain batik, karena Indonesia memang kaya akan jenis-jenis kain yang cantik dan menarik.  Ada tenun, songket,dan penampilan beragam budaya lainnya.

Istilah Batik Peranakan

Hadirnya Batik Peranakan dalam gelaran wastra kali ini, menunjukkan bahwa betapa kayanya motif-motif batik Indonesia dengan berbagai latar belakang.

Batik merupakan hasil produk asli Indonesia, yang terlahir dari budaya tradisi Indonesia.  Batik Peranakan merupakan batik yang  berakulturasi dan berasimilasi dengan tradisi budaya pendatang. Istilah peranakan itu sendiri, ditujukan bagi warga pendatang dari etnis lain yang menetap dalam suatu negara hingga beranak-cucu. Warga peranakan inilah yang sangat kental menjaga kultur dan budaya nenek moyang, mengawinkan kultur serta budaya dan berasimilasi dengan tradisi budaya setempat.

Di Indonesia, akibat kegiatan perdagangan internasional di era tahun 1800-an, dimana kaum pendatang berasal dari etnis Tionghoa, Belanda, Arab dan India berakulturasi dengan masyrakat pribumi.  Kegiatan perdagangan ini mempengaruhi tradisi dan budaya batik Indonesia. Yang tadinya kental dengan ciri khas lokal, akhirnya berbaur dengan pendatang, maka disebutlah istilah Batik Peranakan.(Niel)