KAWULA INDONESIA-Ketahanan pangan harus menjadi isu utama dalam keseluruhan pertemuan Presidensi G20 kelompok kerja bidang pertanian. Pasalnya, pangan merupakan sektor utama dalam menghadapi berbagai krisis, mulai dari kelaparan dan kemiskinan.

“Hari ini kita dihajar oleh perubahan iklim yang menjauhkan kita dari tujuan pembangunan berkelanjutan seperti pengentasan kelaparan dan kemiskinan, karena itu ketahanan pangan harus menjadi isu utama dalam G20,” ungkap Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo  dalam keterangan resmi yang dirilis Jumat (28/1/2022).

Syahrul mengatakan pandemi covid-19 menciptakan tantangan baru terhadap pangan dan nutrisi kesehatan masyarakat. Wabah tersebut membatasi pergerakan barang dan jasa, baik di tingkat lokal, regional, maupun global.

Beberapa jalur logistik tertutup di tengah pandemi. Alhasil, distribusi barang dan jasa terhambat dan beberapa negara mengalami krisis pangan.

“Sementara itu beberapa negara menerapkan proteksi stok nasional yang berdampak pada ketidakseimbangan pada sistem ketahanan pangan global pada tingkat nasional,” kata pria yang akrab disapa SYL ini.

Hal tersebut, lanjut SYL, menyebabkan peningkatan risiko pada akses pangan dan nutrisi, utamanya kepada penduduk miskin di desa dan perkotaan.

Maka dari itu, SYL memandang seluruh negara G20 harus bersinergi untuk memastikan ketahanan pangan dan gizi masyarakat di dunia. Menurut SYL, kelompok kerja bidang pertanian Presidensi G20 harus mengidentifikasi tiga isu utama.

“Tiga hal yang dimaksud tersebut adalah, membangun sistem pangan yang tangguh dan berkelanjutan, mempromosikan perdagangan pangan yang terbuka dan ketiga mendorong bisnis pertanian yang inovatif melalui pertanian digital,” bebernya.(dri)