KAWULA INDONESIA-Pengembangbiakan sapi lokal merugikan karena biaya yang dikeluarkan peternak lebih besar dari harganya.

“Biaya untuk memproduksi satu ekor jika kita perhitungkan satu ekor itu tidak kurang dari 7 juta. Usaha pembiakan secara ekonomis tidak menguntungkan kalau masih tidak menggunakan harga seperti sekarang,” ujar Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) Nanang Purus Subendro  dalam Webinar Pusat Kajian Pertanian Pangan & Advokasi (PATAKA) ke-67 bertema “Banjir Kerbau India, Kemana Sapi Lokal Kita?”, kemarin.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), harga rata-rata eceran daging dari 2016 tidak banyak pergerakan. Hingga 2021, perubahan harga hanya 4 persen. Terlebih, pemerintah mengimpor daging kerbau dari India agar harga tetap berada dalam kisaran Rp80.000.

“Bayangkan dalam kurun waktu enam tahun kenaikan hanya 4 persen, kita bisa bayangkan nilai peternak semakin hari semakin terpuruk ini perlu kita sikapi. Tidak ada yang mau masuk industri ini kalau dari waktu ke waktu tidak ada kenaikan harga dan tidak menjanjikan keuntungan bagi pelaku usahanya,” ungkap Nanang.

Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dari Kementerian Pertanian Makmun memastikan bahwa ada kenaikan harga sapi, baik dari sisi produsen maupun konsumen.

“Harga sapi ini terus meningkat; jadi kalau harga hidupnya sekarang mungkin bisa dikonfirmasi kembali dari data kami yang kami 2021 akhir itu ada di Rp48.800, ini juga mungkin seiring dengan yang di Australia AUD$4. Ini kondisi kita terkait harga (harga sapi hidup),” beber Makmun.

Sedangkan untuk harga sapi potong yang dijual di pasar rata-rata Rp118.000 per bulan pada 2021.

Ia juga mengatakan ada kenaikan produksi 4,56 persen dari 2020 ke 2021 yang disertai dengan menurunnya impor daging sebanyak 10,82 persen.

“Dari 2020 sampai 2021, jumlah penduduk kita bertumbuh, per kapitanya relatif stagnan, kebutuhan kita dari 2019 ke 2020. Produksi dalam negeri sebetulnya juga bertumbuh kemudian kekurangannya dari dalam negeri masih ada tapi dari tahun ke tahun ini menurun, ini artinya perkembangan sapi dalam negeri terus bertumbuh,” jelas Makmun. (dri)