KAWULA INDONESIA-Pengembangan Climate Smart Agriculture (CSA) sangat tepat sebagai isu prioritas bagi negara D-8 di tengah situasi pertanian global yang menghadapi tekanan akibat perubahan iklim.

Terdapat setidaknya empat inovasi kunci dalam CSA, yakni pengelolaan dan pemanfaatan air secara lebih efisien dan berkelanjutan, perbaikan dalam pengelolaan hara dan pupuk, penerapan biofortifikasi pada tanaman pangan utama nasional, serta penerapan inovasi dan teknologi untuk menekan kehilangan hasil dan limbah pangan/Food Loss and Waste (FLW).

Demikian diungkapkan Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo dalam pertemuan internasional D-8, seperti yang tertera dalam keterangan kepada wartawan, Jumat (14/1/2022).

“Beberapa inovasi yang telah kami terapkan, di antaranya adalah mendorong implementasi Good Handling Practices (GHP), perbaikan kualitas ruang penyimpanan hasil panen, dan penerapan teknik pemanenan yang lebih baik melalui perbaikan desain mesin panen, serta memberikan pelatihan bagi operator dan bimbingan teknis bagi petani,” ujar Syahrul.

Dalam pertemuan dengan delapan negara berkembang secara virtual tersebut, Syahrul memastikan komitmen Indonesia yang siap berbagi pengalaman dengan seluruh anggota D-8.

“Saya berharap melalui forum kerja sama ini kita dapat memperkuat sinergitas dalam mendorong adopsi inovasi dan teknologi CSA untuk adaptasi dan mitigasi perubahan iklim secara luas khususnya di negara-negara angota D-8 dan dunia internasional pada umumnya,” bebernya.

Syahrul mengungkapkan pada masa pandemi sektor pertanian telah menunjukkan ketangguhan sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia.

“Saat puncak pandemi pada tahun 2020, dibandingkan dengan kontribusi sektor lainnya, PDB sektor pertanian tercatat paling tinggi sebesar 16,24 persen meskipun PDB nasional mengalami kontraksi sebesar  minus 4,19 persen. Para petani juga masih diuntungkan karena NTUP tahun 2020 yang meningkat 0,51 persen dari tahun sebelumnya,” ungkap Syahrul.

Namun, ketergantungan sektor pertanian terhadap kondisi alam pun tidak dapat dipungkiri. Sektor pertanian sangat sensitif terhadap dampak perubahan iklim, karena bertumpu pada siklus air dan cuaca untuk menjaga produktivitasnya.

Anggota negara D-8 adalah Bangladesh, Mesir, Iran, Malaysia, Nigeria, Pakistan, Turki, serta Indonesia.(dri)