KAWULA INDONESIA-Kementrian Perhubungan (Kemenhub) bakal mengusulkan adanya kenaikan tarif KRL Jabodetabek. Tarif KRL Jabodetabek saat ini Rp 3.000 per 25 km pertama bakal diusulkan naik Rp 2.000 atau menjadi Rp 5.000.

Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno, tidak mempermasalahkan rencana usulan kenaikan tarif KRL Jabodetabek atau commuter line yang sedang digodok Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Kata Djoko sebenarnya rencana kenaikan tarif sudah pernah mau dilakukan tetapi dibatalkan karena mendekati Pilpres 2019. Apalagi sejak tahun 2015 tarif KRL Jabodetabek tidak naik.

“Kalau lihat mayoritasnya sebenarnya naik tidak apa-apa, sudah lama enggak naik, apalagi ini tiap tahun gaji juga naik, cuman sekarang fokusnya adalah tarif yang tepat sasaran,” kata Djoko yang juga dikenal sebagai pengamat transportasi saat dihubungi wartawan, Kamis (13/1/2022).

Menurut Djoko tarif tepat sasaran tersebut bisa diaplikasikan dengan memberikan subsidi kepada masyarakat yang tidak mampu membayar kenaikan tarif KRL Jabodetabek. Sementara masyarakat yang mampu harus membayar sesuai dengan keputusan besaran kenaikan tarifnya.

“Bagi yang mampu bayar tidak apa-apa, toh masih mampu dia bayar dengan naik Rp 2.000 sampai Rp 5.000, di parkir (stasiun) mobil-mobilnya bagus, tapi ya tetap dihargai mereka mau berpindah ke transportasi umum. Tetap subsidi tetap ada. cuman perbedaannya adalah bagi yang tidak mampu bisa diusulkan,” beber Djoko.

Djoko belum bisa memberikan gambaran pasti bagaimana mekanisme pemberian subsidi ke masyarakat tidak mampu yang mau naik KRL Jabodetabek. Ia mencontohkan mekanisme bisa didata melalui surat dari RT atau RW hingga surat dari kantor tempatnya bekerja.

“Tarif dinaikkan yang penting bagi yang mungkin merasa dia golongan tidak mampu ini kan mekanisme mudah ya diatur entah lewat surat RT, RW, atau surat dari kantornya atau KTP bisa digabungkan, mungkin saja orang bohong tidak apa-apa nanti kalau ketahuan malu sendiri. Nah itu ada tarif khusus bagi yang tidak mampu,” ungkap Djoko.

Selain itu, Djoko merasa adanya wacana kenaikan tarif KRL Jabodetabek juga sudah sesuai dengan fasilitas dan kondisi yang saat ini ada di stasiun. Apalagi, kata Djoko, stasiun KRL Jabodetabek juga terus mengalami perbaikan.

“Stasiun punya eskalator, punya lift, dan sebagainya sudah standar, stasiun yang baru pasti ada itu kalau dia bertingkat. Sudah baguslah itu di Jatinegara, Cikarang, dan sebagainya,” pungkas Djoko.(dri)